0

Bob Sadino : Mereka Bilang Saya Gila!

Posted by aditya.nurj08 on 4 October 2010 in Academic |

Baru-baru ini saya baca buku cukup unik yaitu tentang perjalanan hidup Bob Sadino, yang merupakan tokoh Wirausahawan di Indonesia yang cukup fenomenal. Nah.. buku ini menarik, karena membahas tentang berwirausaha dengan cara pandang Bob Sadino yang unik, yang tidak wajar, yang kadang – kadang membuat kita dibuat “GILA” untuk berpikir.

Disini saya mengutip resensi buku yang ditulis oleh penulis buku ini sendiri yaitu Edy Zaques.
SUMBER

Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!

Oleh: Edy Zaqeus

Penerbit: Kintamani Publishing, 2009

Tebal: xiv + 202 hal

Ukuran: 16 x 23,8 cm

ISBN: 978-979-19074-1-5

Harga: Rp125.000 (hard cover)/Rp80.000 (soft cover)

PENDAHULUAN

Buku ini berangkat dari gagasan yang teramat sederhana, bahwa salah satu cara yang bisa kita tempuh untuk memerangi pengangguran dan kemiskinan di negeri ini adalah dengan menempuh jalan entrepreneurship, kewirausahaan, atau kewiraswastaan. Mengapa jalan kewiraswastaan? Sebab, inilah jalan yang—sepanjang sejarah peradaban manusia—terbukti mampu menggerakkan perekonomian suatu masyarakat, bangsa, atau negara. Jalan ini pula yang telah melahirkan bangsa-bangsa besar, maju, mapan, dan makmur secara ekonomi.

Namun yang tak kalah pentingnya, jalan kewiraswastaan adalah cara-cara yang bisa dijalankan oleh hampir setiap individu yang memang tergerak untuk melakukannya. Inilah jalur bagi siapa saja yang ingin memperbaiki kehidupannya. Semua orang, berangkat dari tingkatan sosial ekonomi apa pun, bila menginginkan untuk menjalankannya, ya pastilah ada peluang dan kesempatan.

Berikutnya, setiap berlangsungnya sebuah usaha atau bisnis, biasanya akan mendatangkan efek ikutan berupa terserapnya tenaga kerja dan sumber daya ekonomi, serta rentetan usaha-usaha lainnya. Semua seperti terkoneksi membentuk suatu rantai, jejaring, atau bahkan suatu sistem interdependensi, dan bersama-sama menggerakkan roda ekonomi suatu masyarakat.

Persoalannya kemudian, bagaimana cara berwiraswasta itu? Bagaimana supaya jalan wiraswasta bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan pengangguran dan kemiskinan? Lalu, kalau ditarik ke tataran lebih besar, bagaimana caranya menggerakkan masyarakat supaya mau memilih jalan wiraswasta sebagai salah satu pilihan untuk meningkatkan kehidupan mereka?

Pertanyaan-pertanyaan besar tersebut coba dijawab oleh buku ini dengan mengetengahkan pengalaman dan gagasan-gagasan seorang pengusaha agroindustri yang sukses, yaitu Bob Sadino, pendiri Kemchicks Group. Sebagaimana yang kita kenal, Bob Sadino adalah seorang pengusaha yang benar-benar berangkat dari nol, tetapi kemudian berhasil mengembangkan bisnisnya hingga besar dan bertahan hingga lebih dari 40 tahun. Itulah sebabnya, ia tergerak untuk berbagi pengalaman dan gagasan tentang kewiraswastaan supaya semakin banyak lagi orang mau menekuninya.

Semula, buku ini dirancang sebagai sebuah buku panduan kewiraswastaan yang berisi tuntutan atau cara-cara menjalankan usaha. Tetapi, dalam perjalanan penggalian materi buku ini, ditemukan sesuatu yang lebih esensial lagi selain soal cara dan teknik berbisnis. Apa itu? Temuan itu adalah tentang mindset atau kerangka berpikir seorang entrepreneur atau wiraswastawan sejati. Soal mindset wiraswasta ini menjadi begitu penting mengingat entrepreneurship atau kewiraswastaan sesungguhnya adalah sebuah pilihan hidup yang lengkap dengan pranata dan nilainya yang khas sekali.

Ketika kewiraswastaan difokuskan ke masalah mindset, maka terkuaklah segala “penyakit” yang menyebabkan bidang ini belum menjadi pilihan utama masyarakat kita, yang sejatinya butuh kendaraan-kendaraan “tercepat” untuk meningkatkan taraf hidupnya. Dan, di sinilah, serta melalui buku inilah, kita akan dapatkan sumbangan pemikiran Bob Sadino yang cukup berarti, semisal tentang konsep kompetensi bernama Roda Bob Sadino (RBS), konsep kematangan spiritual bernama Lingkaran Bob Sadino (LBS), serta sandaran-sandaran bagi calon wiraswastawan.

Tidak itu saja, melalui galian-galian jurnalistik, buku ini menyuguhkan pemikiran-pemikiran Bob yang begitu sederhana tentang perbaikan sistem pendidikan kita. Dengan konsep RBS kita bisa menelusuri masalah-masalah paling mendasar dalam sistem pendidikan sekarang. Tak lupa, gagasan-gagasan Bob tentang langkah-langkah apa yang bisa dilakukan supaya makin banyak “orang kampus” menempuh jalan wiraswasta.

Lalu, bagi pembaca yang membutuhkan kiat-kiat sukses ala Bob Sadino, buku ini juga memberikan sebagian kecil saja dari begitu banyaknya pengalaman sukses tokoh agrobisnis sekaligus selebritis ini. Sebab, bila sudah menyangkut cara sukses berwiraswasta, Bob lebih suka mendorong orang supaya berani belajar dari pengalamannya sendiri, serta menemukan cara-cara terbaik dari pengalaman tersebut. Ini merupakan tantangan dan lecutan khas ala Bob Sadino.

Soal sandaran spiritual bagi wiraswastawan juga menjadi bagian dari pemikiran Bob Sadino yang coba ditawarkan kepada kita semua. Tanpa sandaran spiritual, yang akan dibahas dalam bab mengenai Lingkaran Bob Sadino (LBS), maka pastilah ada yang kurang dalam diri si wiraswastawan. Tanpa dimensi spiritual, keseimbangan—sebagai suatu kondisi ideal dalam bidang apa pun—tidak akan bisa dinikmati. Dan, itu bisa berarti berkurangnya “kenikmatan” menjadi seorang wiraswasta sejati.

Gagasan menjadikan wiraswasta sebagai suatu gerakan nasional untuk membangkitkan perekonomian Indonesia ternyata juga tidak bisa lepas dari dimensi ketatanegaraan. Sekilas, tampak agak jauh relevansinya dengan tema kewiraswastaan. Tetapi, melalui galian yang cermat, akhirnya terkuak betapa gerakan wiraswasta nasional membutuhkan seorang pemimpin nasional yang berlatar belakang wiraswasta, atau pastinya memiliki jiwa kewiraswastaan (entrepreneurship). Dan, justru pada topik bahasan inilah Bob telah memberikan sumbangan-sumbangan gagasan kepemimpinan ideal yang tampaknya malah sering lepas dari perhatian kita semua.

Akan tetapi, perlu digarisbawahi di sini, Bob Sadino adalah sosok yang unik, nyeleneh, fenomenal, dan memliki gaya yang khas dalam membeberkan gagasan-gagasannya. Bahkan, sebagaimana terukir sebagai judul buku ini, memang tak sedikit orang yang menganggap Bob Sadino itu gila! Sebagian dari kita yang pernah mengenali Bob secara langsung, baik dari sosok penampilan, cara bersikap, atau cara berbicaranya, barangkali cukup mafum dengan segala kontroversi yang diciptakannya.

Tetapi, bagi pembaca yang mungkin baru pertama kali berkenalan dengan Bob melalui buku ini, peringatan perlu disampaikan. Bahwa, akan ada kejutan-kejutan kecil di buku ini, yang mungkin membutuhkan kearifan serta perenungan sebelum sembarang kesimpulan dijatuhkan. Walaupun, Bob sendiri tidak pernah mau peduli dengan apa pun penyimpulan dan penyebutan khalayak atas dirinya. Termasuk sebutan “gila”, yang menurutnya justru merupakan suatu bentuk “kekaguman” terselubung atas kiprah dan pemikirannya.

Terakhir, perlu ditekankan pula di sini, bahwa buku ini hanyalah buku sederhana yang cuma bisa mencatat atau mengulas kulit-kulit luar dari kedalaman buah pikiran seorang Bob Sadino. Siapa pun pembaca buku ini, yang sebelumnya pernah kenal, berbincang, berdiskusi, atau bahkan berkerja sama dengan Bob Sadino, pasti bisa merasakan kurangnya buku ini. Dan tetap saja, Bob Sadino adalah sosok yang jauh lebih bisa “dinikmati” apabila dia “disantap” langsung, bak menyantap produk-produk Kemchicks yang sohor itu.

Selamat membaca.

Edy Zaqeus

0

Android Update

Posted by aditya.nurj08 on 27 September 2010 in Technology |

Android Update??? Android 2.2 belum marak di pasaran, namun Google sudah mengembangkan Android 3.0. Mari simak 10 hal yang selayaknya ada pada Android 3.0 tersebut :

1. Jangan ada lagi tampilan custom

Ini adalah salah satu rumor yang mungkin ingin dijadikan kenyataan untuk Android 3.0. Sudah saatnya Google menunjukkan kepercayaan pada visi sendiri dengan berhenti membiarkan vendor ponsel membuat interface-nya sendiri pada ponsel Android.

2. Hanya gunakan layar sentuh Capacitative

Mempunyai sistem operasi handal di ponsel tak akan begitu berarti bila tidak didukung dengan layar sentuh yang tak berjalan dengan mulus. Adanya vendor dengan layar sentuh resistive bisa mengganggu citra Android di masyarakat.

3. Sinkronisasi

Ada banyak aplikasi yang bisa mensinkronkan file dan musik ke komputasi awan, alias via internet. Mengapa Google tidak menjadikan kemampuan ini sebagai hal yang wajib pada Android?

4. Kemampuan prosesor dan baterai

Siapa yang tak mau ponsel Android 3.0 murah? Namun, bila harus memangkas kemampuan otak dan baterai tentunya tak akan menjadi ponsel idaman. Google harus lebih tegas soal spesifikasi minimal prosesor dan baterai yang digunakan.

5. Keyboard yang lebih baru

Ingat aplikasi Swype dan SwiftKey yang mampu meramal kata yang akan ditulis agar mempercepat penulisan? Sepertinya tak masalah bila Google ‘menyontek’ ide-ide terbaik mereka.

6. Kendali kursor yang lebih presisi

Sebuah saran yang mustinya diterapkan pada Android versi baru, yaitu perlu ada sistem yang lebih baik untuk menunjuk bagian yang tepat dari layar.

7. Menyediakan beragam aplikasi

Google sebaiknya mulai menambahkan beberapa fitur baru yang lebih menyenangkan dan berguna untuk setiap kalangan. Mulai dari aplikasi pencatatan hingga daftar tugas alias To-Do List.

8. Kendali Orangtua

Bila ingin Android dapat dijangkau anak-anak, sebaiknya Google mulai menyiapkan kemampuan pembatasan usia untuk memblokir materi aplikasi tertentu. Ya, tahu kan materi apa yng dimaksud?

9. Peralatan teks yang lebih mudah

Menyalin URL ke clipboard dalam Android 2.1 memang sudah bisa dilakukan, namun rupanya masih sulit untuk menyalin teks besar antara aplikasi email standar. Jadi tak ada salahnya manajemen teks lebih dimudahkan.

10. Dukungan standar VOIP

VOIP alias Voice over IP sudah ada pada desktop PC, namun pada Android mungkin bisa menjadi solusi yang terbaik. Skype belum lama ini meluncurkan versi aplikasinya yang bisa diakses semua ponsel Android. Ada baiknya juga Android 3.0 menghadirkan aplikasi menarik ini.

Sumber : detikinet.com

Tags: , ,

0

Sejarah Aikido di Indonesia

Posted by aditya.nurj08 on 26 September 2010 in Aikido |

PERIODE 1970-1980
Menurut informasi yang cukup dapat dipercaya, Aikido masuk ke Indonesia sejak sekitar 1970-an. Melalui para alumnus Jepang warga Indonesia memperkenalkan Aikido secara sporadis dan sendiri-sendiri.Tidak ada catatan jelas perkembangan Aikido pada masa ini.

PERIODE 1980-1990
1984 mulai ada inisiatif untuk meng-organisasikan perkembangan Aikido, maka dirintislah Yayasan Indonesia Aikikai. Pada bulan Februari 1986 merupakan rapat resmi YIA pertama untuk pembahasan AD-ART Yayasan.
Sampai dengan 1986, secara umum dojo Aikido hanya terdiri 3 dojo (Slipi-Kemanggisan, Menteng dan Manggarai) di Jakarta dan 1 di Surabaya. Pelatih aktif terdiri dari Mansyur Idham, DAN 1; Achmad Mahbub, DAN 1 dan Surabaya diwakilkan pada Prawira W, KYU 1.
1987, lahirlah 7 orang Yudansha pertama (Dan I) di Indonesia, termasuk Sensei Ferdiansyah. Regenerasi kepemimpinan pelatihan terjadi, yang mana Bapak Mansyur Idham mulai surut aktifitasnya (aktif 3 tahun, sejak 1984) di aikido dan berpulangnya Bpk. Ahmad Machbub ke Rahmatullah.
Sejak 1988, Koordinator Kepelatihan dan pelaksanaan Ujian Kenaikan Tingkat dipercayakan kepada Ferdiansyah. Dan Ketua Umum YIA diamanatkan kepada DR. Dono Iskandar.
1990, didatangkan pelatih professional untuk pertama kali dari Jepang melalui program JOCV – JICA, Hiroaki Kobayashi, Dan III untuk selama 2 tahun.

PERIODE 1990-2000
Dojo Percontohan yang dikembangkan Sensei Ferdiansyah mulai terbentuk lebih solid, yang untuk pertama kali dikembangkan di kalangan kemahasiswaan (terdiri dari 3 dojo). Perkembangan dojo: dari 4 dojo di seluruh Indonesia menjadi 12 dojo (1 dojo Bandung, 1 dojo Surabaya, 1 dojo Sumbawa, 9 dojo Jakarta).
1993, Sensei Ferdiansyah, Dan III (setelah aktif mengembangkan 7 tahun, sejak 1986) meninggalkan YIA dan mengundurkan diri dari segala inisiatifnya mengembangkan YIA, sebagai koordinator kepelatihan dan Penguji utama pelaksanaan ujian. Dimana sebelumnya secara berturut telah pula mengundurkan diri: Prawira W (Surabaya) dan Dono Iskandar (Ketua Umum YIA).
1994, yayasan KBAI resmi lahir dan Perguruan Aikido Indonesia yang dipimpin Sensei Ferdiansyah bernaung di dalamnya. Perguruan Aikido Indonesia, KBAI tercatat di Dojo Finder mewakili Indonesia satu-satunya.
1999, Perguruan Aikido Indonesia-KBAI diakui satu-satunya mewakili Indonesia menghadiri perhelatan besar Aikido di Jepang. Acara pertemuan pemimpin organisasi dari berbagai negara untuk hadir dalam penobatan Doshu (Pemimpin Dunia) Aikido, Indonesia diwakili Sensei Ferdiansyah, Dan IV.

PERKEMBANGAN SAMPAI DENGAN 2007
Perkembangan aikido terbantu dengan film-film Steven Seagal sejak tahun 1992. Dan sejak 1996, Aikido cukup marak berkembang terutama di Jakarta. Kepopuleran Aikido berdampak juga pada minat orang untuk berbisnis dan berdagang pada lingkup aikido, termasuk pada bidang keilmuannya. Hal yang memprihatinkan adalah sejak tahun 2000, begitu banyak dojo berkembang tanpa akar jelas, terlebih lagi keabsahan legitimasi dan mutu pelatihnya juga patut dipertanyakan. Hal ini tentu akan memberikan dampak pada penggambaran Aikido yang salah di masyarakat awam.

Adalah hak masyarakat untuk memilih dan berhati-hati dalam memilah apa yang dipilihnya untuk kemudian ditekuninya. Fondamen atau dasar yang salah akan menghasilkan landasan yang lemah, akibatnya dalam bidang keilmuan tentu akan memberi arah yang dipastikan salah. Padahal, apa yang kita tekuni akan berdampak pada pembangunan diri dan pengembangan kemampuan diri kita dikemudian hari. Jika hal ini tidak dianggap penting tentunya itu juga suatu pilihan masyarakat itu sendiri.

INSTRUKTUR HOMBU DARI TAHUN KE TAHUN

1984-Masando Sasaki, 1985-Morito Suganuma, 1986-Seki Shoji-Yukimitsu Kobayashi, 1987-Miyamoto Tsuruzo-Sugawara Shigeru, 1988-Fujita-Kuribayashi Takanori, 1989-Shigenobu Okumura-Etsuji Horii, 1990-Ichihashi Norihiko-Kanazawa, 1991-Masatoshi Hatano, 1992-Seishiro Endo-Irii Yoshinobu, 1993-Osawa Hayato-Mori Tomohiro, 1994-Fujita, 1995-Yokota, 1996-Seki Shoji,1997-Yokota ,1998-Osawa Hayato ,1999-Yokota, 2000-Kuribayashi, 2001-Toriumi Koichi-Makoto Ito, 2002-Seki Shoji-Hiroyuki Sakurai, 2003-Takanori Kuribayashi-Koijiro Suzuki , 2004-Toriumi Koichi, 2005-Sugawara Shigeru-Toshio Suzuki, 2006-Takanori Kuribayashi-Teiju Sasaki, 2007-Hiroyuki Nanba-Yuichi Kodani, 2008- Kanazawa  , 2009-Fujimaki-Suzuki Toshio,

Tags: , ,

0

Sejarah Aikido

Posted by aditya.nurj08 on 26 September 2010 in Aikido |

Aikido yang dahulu dikenal sebagai Aikijutsu dikembangkan secara eksklusif dan tertutup oleh Pangeran Teijun (Sadazumi), putra ke-6 Kaisar Seiwa (Keluarga Genji)-Jepang. Sistemnya mulai dibentuk oleh Minamoto Genji Yoshimitsu di pusat pengembangan “istana Daito” yang kemudian dikenal sebagai Daito Aikijutsu. Sejak tahun 1920, Aikido mulai dimasyarakatkan oleh  Prof. Morihei Ueshiba dan ia mendirikan organisasi Aikikai Foundation pada tahun 1940. Aikikai Foundation mendapat legitimasi dari Pemerintahan Jepang dan sejak saat itu menjadi pusat  pengembangan Aikido dunia. Saat ini Aikikai Foundation dipimpin oleh Moriteru Ueshiba, generasi ke-3 dari keluarga Ueshiba.

Aikido adalah Budo, Budo secara harafiah berarti jalan ksatriaan atau Seni bela diri dalam kamus kita. Budo yang murni merupakan unifikasi antara pikiran, nafas dan jiwa. Budo akan termanifestasi berdasarkan hati si-praktisi dan bukan dikarenakan tekniknya. Dengan demikian, Aikido mengajarkan kesantunan pribadi dengan semangat Budo. Belajar Aikido sebagai seni beladiri, kita juga akan mendapatkan keuntungan menjadi lebih sehat baik fisik, mental dan sosial.

Tags: ,

0

Belajar Ngeblog

Posted by aditya.nurj08 on 26 September 2010 in Anything |

Bingung mau nulis apa? Dah lama sekali gak nge post di blog, saya termasuk orang yang  jarang menulis di blog. Nah kali ini akan mencoba menulis di blog. Mencoba menulis apa aja yang ada di pikiran atau berita – berita menarik  yang sekaligus menjadi media untuk belajar.

Ayo semangat Menulis………… \(^_^)/

Copyright © 2010-2017 ADITYA N.J. ' S BLOG All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.4, from BuyNowShop.com.